Kisah suka dan duka Suu Kyi “The
Lady”
Aung San Suu Kyi adalah tokoh aktivis ternama dan
merupakan seorang politisi oposisi Burma dan ketua Liga Nasional Untuk
Demokrasi (NDL) di Burma. Beliau lahir pada tanggal 19 Juni 1945. Memiliki nama
asli Daw Aung San Suu Kyi, ia dilahirkan oleh orang tua yang memang berkutat
didunia politik Burma. Ayahnya adalah seorang tokoh pahlawan kemerdekaan Burma dan ibunya adalah duta
besar wanita pertama Burma untuk India dan Nepal.
Tragedi awal yang terjadi adalah tepat ketika 2 tahun setelah
kelahiranya Ayahnya yang sedang giat untuk membebaskan Burma dari Inggris
ditembak mati oleh sainganya saat sedang berunding. Setelah kejadian tersebut,
Ibu Suu Kyi yaitu Khin Kyi membawanya ke India. Suu Kyi menempuh pendidikan di
India yaitu di Universitas Delhi kemudian Berikutnya,
dia melanjutkan pendidikannya di Oxford University di bidang filosofi, politik,
dan ekonomi di St. Hugh’s College. Setelah lulus ia melanjutkan pendidikannya
di New York dan bekerja untuk pemerintah Persatuan Myanmar. Tanggal 1 januari
1972, dia menikah dengan Dr. Michael Aris dan menghasilkan dua orang putra, yaitu
Alexander dan Kim.
Pada tahun 1962 Diktator U Ne Win melakukan kudeta
yang kemudian mendapatkan protes besar dari intermiten kebijakanya sampai ke
decade selanjutnya. Di tahun 1988 ia mengundurkan diri dari jabatanya di 2
partai dan bekerja dibelakang layar untuk mengatur berbagai tanggapan kekerasan
terhadap protes. Pada dasarnya ia meninggalkan Negara itu di tangan Junta
Militer.
Kembalinya Suu Kyi
ke Burma
Setelah bertahun-tahun Suu Kyi tinggal di luar negeri, Suu
Kyi memutuskan kembali ke Myanmar pada tahun 1988. Beliau kembali karena
melihat banyak sekali terjadi pembantaian demonstran rally terhadap aturan
brutal yang di buat oleh Diktator U Ne Win dan aturan tangan besinya. Selama di
luar negeri ia juga melihat banyak sekali kekerasan terhadap wanita dan
pemenjaraan yang dilakukan oleh pihak inggris. Itulah yang membuat hati
nuraninya terpanggil untuk membantu rakyatnya.
Bahkan sebelum ia menikah, Suu Kyi memberikan surat kepada suaminya
yang mengatakan bahwa negaranya sedang
membutuhkanya dan suaminya harus membantunya. Baginya negara adalah yang nomor
satu dan harus didahulukan daripada kepentinganya.
Kedatangan Suu Kyi disambut baik oleh rakyat Myanmar karena
dalam aksinya ia berbicara bahwa dia menentang dan memperkarsai sebuah gerakan
non kekerasan untuk mencapai demokrasi dan hak asasi manusia di Myanmar. Namun
aksi yang dilakukan Suu Kyi mendapatkan banyak sekali tantangan dari Diktator U
Ne Win karena dianggap mengancam keberlangsungan aturan yang sudah dibuat
sebelumnya. Bahkan untuk mencegah aksi yang dilakukan oleh Suu Kyi, pemerintah
setempat bahkan memboikot keluarga Suu Kyi yaitu suami dan kedua anaknya
kembali ke Inggris dan melarangnya untuk masuk ke Myanmar untuk mengunjungi Suu
Kyi yang tengah berjuang sendirian.
Tahanan Rumah
Tidak butuh waktu lama bagi Junta Militer untuk melihat
usahanya pada Juli 1989 pemerintah militer Burman berganti nama menjadi “Uni
Myanmar”. Kemudian pada 1989 pemerintah menempatkan Suu Kyi dalam tahanan rumah
di rumahnya di Universitas Avenue dan dilarang untuk bertemu dengan keluarganya.
Walaupun militer Uni menyetujui untuk membebaskanya dengan syarat ia harus
pergi meninggalkan negara tersebut, Suu Kyi memilih untuk menolak dan tetap
ingin melanjutkan perjuanganya. Tahun 1990 partai yang dipimpinya memenangkan
80% kursi di pemilu namun, hasil pemilu tersebut diabaikan oleh Junta. Padahal
di asumsikan bahwa Suu Kyi akan diposisikan sebagai Perdana Menteri yang
kenyataanya tidak akan diijinkan karena tidak berdiri sebagai calon dalam
pemilihan. Sebaliknya pemilu tersebut dibatalkan dan militer menolak untuk
menyerahkan kekuasaan yang kemudian mendapat kecaman international.
Selama Suu Kyi berjuang sendirian demi membela Burma, suami
beliau Dr. Michael Aris tidak pantang
arang dan tetap memberikanya dukungan dan bantuan kepadanya selama di Inggris.
Dr. Michael Aris berusaha mendukung istrinya untuk mendapatkan penghargaan
nobel perdamaian. Sampai akhirnya ia mendapatkan nobel perdamaian di tahun 1991
yang di wakilkan oleh kedua putranya yaitu Alexander dan Kim. Hadiah dari nobel
perdamaian dunia yang ia peroleh sebesar 1,3 juta USD yang kemudian digunakan
untuk membangun kepercayaan, kesehatan dan pendidikan rakyat di Burma. Selama
ia menjadi tahanan rumah, Suu Kyi banyak membaca buku filsafat, politik dan
biografi yang dikirimkan suaminya dan bermain piano karena tidak banyak yang
bisa ia lakukan.
Suu Kyi dibebaskan dari tahanan rumah 7 tahun kemudian yaitu
pada Juli 1995. Di tahun kemudian ia menghadiri kongres NDL yang ternyata masih
mendapatkan tekanan dan pelecehan dari pihak militer. Kemudian tak putus asa ia
mendirikan komite perwakilan dan dinyatakan sebagai badan pengatur yang sah di
negara tersebut tahun 1998. Dan respon yang didapati dari dibangunya sebuah
komite tersebut adalah Suu Kyi kembali di jadikan tahanan rumah oleh Junta pada
september 2000 yang kemudian dilepaskan pada tahun 2002.
Tak sampai disitu, perjuangan Suu Kyi kemudian berlangsung
pada terjadinya bentrok di jalan-jalan antara NDL dengan demonstran
pro-pemerintah yang kemudian menjadi mesar dan memaksa pemerintah untuk kembali
menjatuhi hukuman kepada Suu Kyi sebagai tahanan rumah pada tahun 2003. Hukuman
tersebut kemudian di perbaharui menjadi tahunan yang kemudian mendapatkan
protes dari masyarakat international yang berupaya memberikan bantuan
untuk membebaskanya walaupun pada
akhirnya tidak berhasil.
Di tahun 2007 Suu Kyi memilih non kekerasan sebagai taktik
politik bijaksana. “saya tidak tahan non
kekerasan untuk alasan moral, tetapi untuk alasan politik dan praktis”kata
beliau. Aung San Suu Kyi sudah ditempatkan menjadi tahanan rumah selama 15
tahun dari 21 tahun terakhir, pada berbagai kesempatan karena ia memulai karir
politiknya yang menentang pemerintahan. Meskipun sebenarnya ia diijinkan untuk
meninggalkan rumah tahanannya dengan syarat begitu ia meninggalkan rumah tahananya berarti ia tidak akan pernah
kembali, ia tetap memilih untuk mengorbankan hidupnya dengan suami dan
anak-anaknya untuk berdiri pada orang-orangnya yaitu rakyat Burma. Beliau
mengatakan "Sebagai seorang ibu,
pengorbanan besar itu menyerah anak-anak saya, tapi Saya selalu menyadari fakta
bahwa orang lain telah menyerah lebih dari saya. Saya tidak pernah lupa bahwa rekan-rekan
saya yang berada di penjara menderita tidak hanya secara fisik, tapi mental
untuk keluarga mereka yang tidak memiliki keamanan luar-dalam penjara yang
lebih besar dari Burma di bawah otoriter memerintah. "
Pemerintah Burma memenjarakan Suu Kyi karena melihat dirinya sebagai seseorang "mungkin
merusak perdamaian dan stabilitas masyarakat" negara, dan digunakan baik
Pasal 10 (a) dan 10 (b) dari Undang-Undang Perlindungan Negara 1975 (pemberian
pemerintah kekuatan untuk memenjarakan orang selama lima tahun tanpa
pengadilan), dan Pasal 22 dari "Hukum untuk Perlindungan Negara Terhadap
Bahaya Mereka Berkeinginan untuk Penyebab Subversif Kisah" sebagai alat
hukum terhadap dirinya. Dia terus
meminta penahanannya, dan banyak negara dan tokoh terus menyerukan
pembebasannya dan bahwa dari 2.100 tahanan politik lainnya di negara itu. Pada
tanggal 12 November 2010, beberapa hari setelah Uni junta yang didukung
Solidaritas dan Pembangunan Partai (USDP) memenangkan pemilihan dilakukan
setelah jeda 20 tahun, junta akhirnya setuju untuk menandatangani perintah
memungkinkan pembebasan Suu Kyi, dan jangka tahanan rumah Suu Kyi berakhir pada
13 November 2010.
Sedikit
informasi. Kisah Aung Sang Suu Kyi banyak sekali di ceritakan di dunia. Bahkan
kisah perjuangan dan kehidupan pribadinya serta pemikiranya banyak di rilis
dalam bentuk buku-buku. Agar kita dapat mengetahui perjuangan Suu Kyi dapat
dilihat di filmnya yang berjudul The Lady. Kisah dalam film tersebut tidak
memiliki akhir karena perjuangan beliau masih berlanjut hingga sekarang ini dan
dalam film tersebut banyak sekali video documenter asli yang berhubungan dengan
beberapa peristiwa sejarah penting di Burma pada masa itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar